Saudara-saudara yang di sana telah mendengar kabar tentang kami dan mereka datang menjumpai kami sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne. Ketika Paulus melihat mereka, ia mengucap syukur kepada Allah, lalu kuatlah hatinya.
Kisah Para Rasul 28:15
Banyak orang memiliki visi yang besar, tetapi tidak semua mampu menjalaninya sampai selesai. Ada orang ingin menyelesaikan studi, membangun keluarga, mengerjakan pelayanan, mengembangkan pekerjaan, atau mengejar sesuatu yang baik. Namun sering kali visi yang baik berhenti di tengah jalan karena tidak dijalani dengan setia.
Manusia dapat memulai sesuatu, tetapi tidak pernah memiliki kuasa penuh untuk memastikan bahwa semuanya akan selesai dengan baik. Hari ini seseorang bisa begitu berhasil, tetapi hatinya tetap bertanya, “Apakah ini akan bertahan? Apakah ini akan selesai? Apakah ini akan tetap berjalan ketika generasi berganti?”
Kita tidak menguasai jalan hidup kita. Namun ada satu penghiburan besar: ketika panggilan itu berasal dari Kristus, Kristus tidak pernah gagal menyelesaikannya. Apa yang Ia mulai, Ia kerjakan. Apa yang Ia kerjakan, Ia bawa sampai akhir. Tidak ada visi manusia yang pasti berhasil sampai akhir, tetapi visi Kristus tidak pernah gagal.
Inilah yang kita lihat dalam hidup Paulus. Tuhan memanggil Saulus, seorang penganiaya orang Kristen, dan menjadikannya saksi Kristus. Tuhan bahkan menyatakan bahwa Paulus akan bersaksi di Roma, pusat dunia pada masa itu. Tetapi perjalanan Paulus menuju Roma sama sekali tidak mudah. Ia ditahan, dianiaya, dipenjara, diadili, mengalami badai, karam kapal, dan akhirnya tiba di Malta dalam keadaan sangat lemah.
Namun kesulitan jalan tidak berarti Tuhan meninggalkan dia. Jalan yang tidak mulus bukan bukti bahwa Tuhan tidak menyertai. Jika Tuhan memanggil Paulus ke Roma, Paulus pasti tiba di Roma. Jika Tuhan memanggil umat-Nya untuk hidup di dalam anugerah, Tuhan juga akan membawa mereka sampai akhir.
Apa yang Ia mulai, Ia kerjakan. Apa yang Ia kerjakan, Ia bawa sampai akhir. Tidak ada visi manusia yang pasti berhasil sampai akhir, tetapi visi Kristus tidak pernah gagal.
Panggilan Tuhan Tidak Digagalkan oleh Penderitaan
Pada Kisah Para Rasul 28:1, Paulus tiba di Pulau Malta bukan sebagai pahlawan. Ia tidak datang dengan kapal megah, tetapi setelah berminggu-minggu terapung di laut, kapal hancur, dan ia hanya selamat dengan memegang potongan kayu kapal. Bahkan setelah tiba di Malta, kesulitan belum selesai.
Penduduk Malta menunjukkan kebaikan kepada para korban kapal karam. Mereka menyalakan api karena cuaca dingin dan hujan. Paulus, seperti biasa, tidak tinggal diam. Ia ikut mengumpulkan ranting untuk api. Tetapi ketika ia meletakkan ranting itu di atas api, seekor ular berbisa keluar dan menggigit tangannya.
Penduduk lokal langsung menarik kesimpulan: Paulus pasti seorang pembunuh. Ia sudah selamat dari laut, tetapi menurut mereka dewi keadilan tetap mengejarnya. Mereka menunggu Paulus bengkak, rebah, atau mati. Tetapi Paulus tidak mengalami apa-apa. Ia mengibaskan ular itu ke dalam api, dan tetap hidup.
Di sini terlihat betapa cepat manusia salah membaca keadaan. Ketika Paulus digigit ular, ia dianggap penjahat besar. Ketika ia tidak mati, ia dianggap dewa. Orang yang menderita dianggap dikutuk. Orang yang terlihat kuat dianggap diberkati. Itulah hati manusia yang berdosa: terlalu cepat menilai, tetapi sering salah melihat.
Mata manusia tidak mampu menembus fenomena. Orang yang sedang menderita belum tentu sedang dihukum Tuhan. Orang yang sedang nyaman belum tentu sedang diberkati Tuhan. Berkat dan pemeliharaan Allah tidak selalu dapat dibaca dari keadaan luar.
Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Penderitaan
Kita sering lebih cepat membaca keadaan daripada membaca rencana Allah. Ketika melihat orang menderita, kita bisa tergoda berkata, “Pasti ada dosa tertentu. Pasti Tuhan sedang menghukum dia.” Tetapi kasus Paulus menunjukkan bahwa kesimpulan seperti itu bisa sangat salah.
Di dalam dunia yang berdosa, ada penderitaan umum. Kita mengalami penyakit, bencana, polusi, kerusakan tubuh, dan berbagai kesulitan bukan selalu karena dosa pribadi tertentu. Ada orang yang tidak merokok, tidak minum, dan hidup cukup sehat, tetapi tetap terkena kanker. Itu bukan selalu berarti ia sedang dihukum karena dosa tertentu. Itu menunjukkan bahwa kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa.
Ada juga penderitaan yang bersifat korektif. Tuhan dapat memakai penderitaan untuk menegur dan mengoreksi hidup kita. Ada pula penderitaan yang formatif, yang dipakai Tuhan untuk membentuk karakter, iman, kesabaran, dan kerendahan hati kita.
Namun ada juga penderitaan yang tidak dijelaskan kepada kita. Ada pertanyaan yang tidak langsung dijawab Tuhan. Ada air mata yang tidak segera diberi alasan. Ketika seseorang bertanya, “Mengapa ini terjadi pada keluarga saya?” kadang jawaban paling jujur adalah: “Saya tidak tahu. Tuhan tidak memberi tahu semua alasan-Nya.” Tetapi satu hal pasti: Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya.
Paulus mengalami penderitaan demi penderitaan, tetapi Tuhan tetap memelihara dia. Tuhan yang memanggil Paulus juga menjaga Paulus. Anugerah yang memanggil dia juga membawa dia. Demikian juga dengan kita. Ketika Tuhan memanggil kita hidup di dalam Kristus, Ia tidak meninggalkan kita berjalan sendirian.
Masuk oleh Anugerah, Dibawa oleh Anugerah, Disambut oleh Anugerah
Anugerah akan menjadi sangat menakutkan jika hanya berarti Tuhan mengampuni dosa kita di awal, lalu berkata, “Sekarang jalani hidupmu sendiri sampai akhir.” Jika demikian, kita semua pasti gagal. Kita tidak hanya membutuhkan anugerah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kita juga membutuhkan anugerah untuk berjalan setiap hari.
Musa memahami hal ini. Ketika Tuhan berkata bahwa Ia akan memberikan tanah perjanjian tetapi tidak menyertai Israel, Musa tidak mau bergerak. Musa tahu bahwa keluar dari Mesir adalah anugerah, tetapi sampai ke tanah perjanjian juga harus oleh anugerah yang sama. Karena itu ia tidak mau berjalan tanpa penyertaan Tuhan.
Kekristenan sejati tidak mengatakan, “Engkau diterima oleh anugerah, lalu berjalan sendiri.” Kekristenan sejati berkata, “Engkau diterima oleh anugerah, dipimpin oleh anugerah, dan akan disambut oleh anugerah.”
Anugerah tidak selalu membuat hidup nyaman. Anugerah dibayar dengan harga yang sangat mahal: darah Anak Allah di atas kayu salib. Karena itu anugerah bukan janji hidup tanpa penderitaan, tetapi janji bahwa Kristus menyertai umat-Nya sampai akhir.
Di pintu kematian, orang berdosa tidak akan sanggup membawa cukup kebaikan, prestasi, moralitas, atau “token” rohani untuk membeli keselamatan. Jika pada akhirnya kita ditagih berdasarkan kebaikan kita, kita semua gagal. Tetapi Injil berkata bahwa orang percaya masuk oleh anugerah, berjalan oleh anugerah, dan disambut oleh anugerah. Bukan karena keberhasilan kita. Bukan juga karena kegagalan kita. Tetapi karena keberhasilan Kristus.
Jika anugerah tidak menanti kita di pintu akhir, tidak seorang pun akan masuk. Tetapi di dalam
Kristus, anugerah yang memanggil kita adalah anugerah yang sama yang menopang kita, dan anugerah yang sama yang akan menyambut kita.
Keadilan yang Jatuh atas Kristus
Penduduk Malta mengira Paulus bertemu dengan keadilan yang menghukum. Ia selamat dari laut, tetapi ular dianggap sebagai hukuman terakhir dari dewi keadilan. Namun dalam terang Injil, kisah ini menunjuk kepada sesuatu yang lebih dalam.
Bagi orang percaya, keadilan Allah yang menghukum dosa tidak lagi jatuh atas kita, karena keadilan itu sudah jatuh atas Kristus di kayu salib. Kristus menerima hukuman sebagai pengganti umat-Nya. Karena itu Paulus tidak bertemu dengan murka yang membinasakan. Ia bertemu dengan anugerah yang memelihara.
Inilah inti Injil: keadilan Allah tidak diabaikan, tetapi digenapi di dalam Kristus. Salib bukan tempat Allah pura-pura melupakan dosa. Salib adalah tempat Allah menghukum dosa di dalam Anak-Nya, supaya orang berdosa menerima anugerah.
Maka ketika kita mengalami kesulitan, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa Allah sedang menghukum kita sebagai musuh. Di dalam Kristus, murka penghukuman telah ditanggung oleh Kristus. Allah mungkin mendisiplin, mengoreksi, dan membentuk kita sebagai Bapa, tetapi Ia tidak lagi menghukum kita sebagai Hakim yang membinasakan.
Keadilan Allah tidak diabaikan, tetapi digenapi di dalam Kristus. Salib adalah tempat Allah menghukum dosa di dalam Anak-Nya supaya orang berdosa menerima anugerah.
Mukjizat dan Sarana Anugerah yang Biasa
Setelah peristiwa ular, Paulus bertemu Publius, pejabat utama di pulau itu. Ayah Publius sedang sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya, berdoa, menumpangkan tangan ke atasnya, dan orang itu sembuh. Setelah itu, banyak orang sakit di pulau itu datang dan disembuhkan.
Lukas mencatat bahwa Paulus berdoa. Ini penting. Paulus bukan sumber kuasa. Paulus bukan penyembuh utama. Ia hanyalah alat yang dipakai Tuhan. Kuasa itu berasal dari Allah.
Kisah ini juga menolong kita memahami karunia mukjizat dengan tepat. Dalam sejarah penebusan, Tuhan memberikan tanda dan mukjizat kepada para nabi dan rasul untuk meneguhkan bahwa mereka adalah utusan Allah. Musa diberi tanda ketika diutus kepada Firaun. Para rasul diberi tanda ketika Injil sedang diberitakan dan gereja sedang diletakkan fondasinya.
Efesus 2:20 mengatakan bahwa gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Dasar tidak diletakkan berulang-ulang. Setelah fondasi diletakkan, bangunan terus dibangun di atasnya.
Karena itu, pandangan Reformed tidak mengajarkan bahwa Allah berhenti berkuasa atau tidak bisa melakukan mukjizat. Allah tetap berdaulat. Allah tetap bisa menyembuhkan. Allah tetap bisa bekerja secara luar biasa. Tetapi Allah tidak lagi memberikan jabatan rasul dan nabi sebagai fondasi baru bagi gereja. Tuhan sekarang memelihara gereja terutama melalui sarana anugerah yang biasa: firman, doa, dan sakramen. Itulah ordinary means of grace.
Masalahnya, kita sering lebih tertarik pada sensasi daripada sarana anugerah yang biasa. Kita ingin yang spektakuler, tetapi mengabaikan firman. Kita ingin yang menggetarkan, tetapi lemah dalam doa. Kita ingin pengalaman rohani yang besar, tetapi meremehkan sakramen dan kehidupan gereja.
Padahal iman datang dari pendengaran akan firman Kristus. Orang berdosa bertobat ketika Injil diberitakan. Orang percaya dikuatkan ketika firman, doa, dan sakramen diterima dengan iman. Gereja yang sehat bukan gereja yang terus mengejar sensasi, tetapi gereja yang setia kepada sarana anugerah yang Kristus tetapkan.
Gereja yang sehat bukan gereja yang terus mengejar sensasi, tetapi gereja yang setia kepada sarana anugerah yang Kristus tetapkan.
Fondasi yang Tidak Perlu Diletakkan Ulang
Ilustrasinya seperti sebuah gedung besar. Di bawah gedung itu ada fondasi dan tiang pancang. Saat gedung dibangun, tiang-tiang itu harus ditanamkan dengan mesin besar. Semua orang dapat melihat prosesnya. Tetapi setelah gedung berdiri, kita tidak lagi melihat tiang pancang itu. Kita tidak perlu menancapkannya lagi setiap minggu. Kita menikmati bangunan yang kokoh karena fondasi itu sudah diletakkan.
Demikian juga para nabi dan rasul adalah fondasi gereja. Tuhan memakai mereka untuk meletakkan dasar. Setelah fondasi itu diletakkan, gereja tidak terus mencari fondasi baru. Gereja hidup di atas fondasi yang sudah diletakkan, yaitu kesaksian para nabi dan rasul, dengan Kristus sebagai batu penjuru.
Karena itu gereja tidak boleh mengukur kesehatan rohani dari sensasi. Jika seseorang datang karena sensasi, ia harus terus dipertahankan dengan sensasi. Jika seseorang datang karena hiburan, ia harus terus dipertahankan dengan hiburan. Tetapi jika seseorang datang karena firman Kristus, ia akan dipelihara oleh firman Kristus.
Gereja yang sehat bukan gereja yang paling heboh, tetapi gereja yang paling setia kepada Kristus dan sarana anugerah-Nya.
Anugerah Melalui Saudara-Saudara Seiman
Ketika Paulus akhirnya bergerak menuju Roma, Tuhan tidak tiba-tiba memutuskan rantainya. Tuhan tidak membuat Kaisar langsung membebaskannya. Tuhan tidak menghapus semua penderitaan Paulus. Tetapi Tuhan memberikan sesuatu yang sangat biasa dan sangat berharga: saudara-saudara seiman.
Di Putioli, Paulus bertemu dengan saudara-saudara dan tinggal bersama mereka selama tujuh hari. Ketika mendekati Roma, saudara-saudara lain datang menjumpai dia sampai ke Forum Apius dan Tres Taberni. Ketika Paulus melihat mereka, ia mengucap syukur kepada Allah, lalu kuatlah hatinya.
Ini sangat indah. Tuhan menguatkan Paulus bukan dengan membebaskannya dari rantai, tetapi dengan menghadirkan komunitas iman. Paulus tetap tahanan, tetapi hatinya dikuatkan. Ia tetap menuju Roma dalam keadaan terikat, tetapi ia tidak sendirian.
Sering kali Tuhan bekerja demikian dalam hidup kita. Ia tidak selalu langsung menyelesaikan masalah kita. Ia tidak selalu langsung mengangkat penyakit, kesulitan ekonomi, konflik, atau beban hidup. Tetapi Ia mengirim saudara-saudara seiman yang mendoakan, menemani, menegur, menghibur, dan berjalan bersama kita.
Orang Kristen tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Ketika Tuhan menyelamatkan kita, Ia tidak hanya menjadikan kita individu yang percaya. Ia menempatkan kita di dalam tubuh Kristus. Kita menjadi bagian dari gereja, bagian dari komunitas umat percaya.
Karena itu, kekristenan yang hanya “sendiri” bukanlah kekristenan yang sehat. Saat teduh sendiri baik. Doa pribadi penting. Tetapi orang percaya tetap membutuhkan gereja. Kita membutuhkan firman yang diberitakan, doa bersama, sakramen, persekutuan, penggembalaan, teguran, dan penghiburan dari tubuh Kristus.
Jangan Mencari Gereja yang Sempurna
Kita tidak boleh meninggalkan komunitas iman hanya karena gereja tidak sempurna. Gereja memang tidak sempurna karena diisi oleh orang-orang berdosa yang sedang dikuduskan. Tetapi gereja tetap adalah mempelai Kristus.
Kita boleh mencari gereja yang lebih sehat, lebih setia kepada firman, dan lebih bertanggung jawab secara rohani. Tetapi kita tidak boleh mencari gereja yang sempurna. Gereja yang sempurna akan langsung menjadi tidak sempurna ketika kita masuk ke dalamnya, karena kita sendiri belum sempurna.
Gereja dapat terasa seperti bahtera Nuh. Di dalam bahtera ada keselamatan, tetapi juga ada bau binatang, kotoran, dan ketidaknyamanan. Namun delapan orang itu selamat bukan karena bahtera itu wangi, tetapi karena mereka berada di dalam bahtera yang Tuhan sediakan.
Demikian juga gereja. Gereja mungkin tidak selalu wangi. Ada kelemahan, konflik, kekurangan, dan dosa yang harus terus dikoreksi. Tetapi di dalam gereja, firman diberitakan. Di dalam gereja, sakramen diberikan. Di dalam gereja, umat Tuhan dipelihara. Di dalam gereja, kita belajar mengasihi, mengampuni, bertobat, dan bertumbuh.
Karena itu, jangan meremehkan gereja. Di mana pun Tuhan mengutus kita, carilah gereja yang setia kepada firman Tuhan. Jangan hanya bertanya di mana rumah yang nyaman, pasar yang dekat, atau fasilitas yang lengkap. Tanyakan juga: di mana gereja yang baik untuk saya bertumbuh?
Dan setelah berada di gereja, jangan hanya datang dan pulang. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk “ke gereja,” tetapi untuk bergereja; bukan hanya menghadiri komunitas, tetapi menjadi bagian dari tubuh Kristus.
Kristus yang Memanggil Akan Membawa Sampai Akhir
Paulus tiba di Roma bukan karena kekuatannya. Ia tiba dalam kelemahan. Ia perlu dikuatkan. Ia datang bukan dengan mahkota, tetapi dengan rantai. Tetapi ia tetap tiba karena Kristus yang memanggilnya setia.
Perusahaan terbesar tidak bisa menjamin masa depan kita. Pekerjaan terbaik tidak bisa menjamin hidup kita sampai akhir. Kesehatan, kenyamanan, uang, keluarga, dan keberhasilan tidak bisa menjadi dasar keyakinan terakhir kita. Semua itu dapat berubah.
Tetapi Kristus tidak berubah. Kristus yang memanggil umat-Nya melalui anugerah adalah Kristus yang sama yang membawa mereka sampai akhir. Anugerah yang menyelamatkan kita bukan anugerah yang kecil di awal lalu habis di tengah jalan. Anugerah yang sama menopang kita dari awal sampai akhir.
Paulus mendengar janji Tuhan: “My grace is sufficient for you.” Anugerah-Ku cukup bagimu. Itu bukan hanya cukup untuk mengampuni dosa masa lalu. Itu cukup untuk hari ini. Cukup untuk penderitaan. Cukup untuk kelemahan. Cukup untuk perjalanan panjang. Cukup sampai akhir.
Pada akhirnya, anugerah akan menyambut orang-orang yang ada di dalam Kristus. Anugerah tidak akan menghitung keberhasilan kita sebagai dasar keselamatan. Anugerah juga tidak akan menjadikan kegagalan kita sebagai kata terakhir. Anugerah akan menunjuk kepada salib dan berkata: Kristus cukup.
Karena itu, jika kita sungguh ada di dalam Kristus, mungkinkah kita ragu bahwa akhir perjalanan kita pasti tuntas? Bukankah bukan kekuatan kita yang menjamin, melainkan kesetiaan Kristus yang tak pernah gagal?”
Ketika hidup terasa nyaman, apakah kita berani mengklaim bahwa itu karena kita menguasai segalanya? Bukankah kenyamanan hanyalah bukti pemeliharaan Allah, bukan jaminan akhir hidup kita? Kristuslah satu-satunya jaminan kita.
Dan ketika hidup terasa berat, sakit, lelah, terluka, atau terhimpit ekonomi, apakah anugerah Allah tiba-tiba berhenti menopang? Bukankah justru di tengah misteri penderitaan, kita menemukan satu kepastian: Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya?”
Maka, apa arti semua kenyamanan atau penderitaan jika kita tidak ada di dalam Kristus? Bukankah di luar Dia, segala hal fana tidak memberi jaminan? Namun jika seseorang belum ada di dalam Kristus, akhir hidupnya tidak aman. Alkitab berkata bahwa di luar Kristus, manusia binasa. Karena itu Injil memanggil orang berdosa untuk pulang. Bertobatlah. Tinggalkan dosa. Datanglah kepada Kristus.
Mengapa kita mau disambut oleh pintu kematian tanpa pengharapan, jika di dalam Kristus kita dapat disambut oleh pintu anugerah?
Diselamatkan oleh anugerah. Hidup dipimpin oleh anugerah. Mati disambut oleh anugerah.
Diselamatkan oleh anugerah, Hidup dipimpin oleh anugerah. Mati disambut oleh anugerah. Tuhan yang sama, anugerah yang sama, akan membawa umatnya sampai akhir!
Kakek Guru