Grace As a Teacher: An Educational Odyssey

Sebab, sudah nyatalah anugerah Allah yang menyelamatkan semua manusia dan mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan saleh di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh berkat dan penampakkan kemuliaan Allah Yang Maha Besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.
Titus 2:11-14

Beberapa tahun yang lampau saya memiliki kesempatan berbicara dengan Dr. Richard Pratt mengenai pendidikan Kristen di US. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah perkataan beliau yang mengatakan lebih kurang demikian, “Pendidikan Kristen di US sedang menyembah kepada Baal dan dewa-dewa Kanaan.” Yang beliau maksudkan adalah pendidikan Kristen yang terus menerus melakukan sinkronisasi secara sukarela kepada standar dunia ini dan meninggalkan prinsip-prinsip Firman Tuhan.

Jika kita membaca Perjanjian Lama, sangatlah jelas bahwa peyembahan kepada Baal dan dewa-dewa Kanaan adalah ancaman terbesar dan berlangsung sangat lama bagi umat Allah yang dituntut untuk menyembah TUHAN secara eksklusif. Ketika umat Israel memasuki tanah Kanaan, mereka memperhatikan bagaimana penduduk di sekitar mereka diberkati oleh Baal. Pertanian di tanah Kanaan sangat membutuhkan hujan. Orang Kanaan menyembah Baal untuk mendapatkan hujan agar panen menjadi sukses. Fakta ini menjelaskan mengapa orang Israel yang menetap di antara bangsa-bangsa Kanaan selalu tergoda untuk menyembah Baal. Tuntutan hidup agar panen berhasil seperti orang Kanaan membuat mereka mengikuti cara orang Kanaan dan melupakan cara TUHAN.

Apa yang terjadi kemudian? Kitab Suci mencatat murka TUHAN bangkit terhadap orang Israel. Murka Tuhan menimpa mereka yang adalah umat Tuhan, yang telah menerima anugerah pembebasan dari perbudakan Mesir dan yang telah merasakan pemeliharaan Tuhan, tetapi mengikuti cara-cara untuk sukses dari orang-orang di sekitar mereka dengan mengorbankan kesetiaan kepada TUHAN.

Bagaimana dengan pendidikan Kristen di Indonesia? Setiap pemangku kepentingan pasti ingin pendidikan Kristen yang diampunya sukses. Mungkin banyak institusi pendidikan Kristen yang memulainya dengan prinsip Firman Tuhan, tetapi ketika tuntutan dunia akan sebuah pendidikan yang berkualitas terus bergulir, kemana kita akan melakukan sinkronisasi? Kepada Firman Tuhan atau kita juga tergoda kepada Baal-Baal modern yang telah memberikan kesuksesan nyata dalam mengembangkan pendidikannya?

Di dalam Titus 2:11-14 ini, Rasul Paulus menjelaskan tentang sebuah landasan teologi yang sangat penting bagi dunia pendidikan Kristen yaitu anugerah Allah di dalam Yesus Kristus sebagai landasan bagi sebuah pedagogi Kristen. Ada yang menarik dalam struktur ayat-ayat ini. Paulus membuka dengan mengatakan the grace of God has appeared dan mengajak kita untuk menantikan the appearing of the glory of Jesus Christ. Di antara waktu kehadiran grace dan glory, Paulus mengatakan grace juga menjadi dasar dari sebuah pendidikan karena grace mendidik/paideuo.

From Grace to Glory

Pada ayat-ayat sebelumnya Paulus memberikan nasihat agar orang Kristen hidup sesuai dengan standar moral Allah. Banyak orang Kristen berpikir bahwa anugerah keselamatan tidak bergantung kepada cara hidup mereka sehingga mereka hidup sesuka hati seperti tanpa hukum (anomia). Paulus menjelaskan dalam ayat 11-14 justru kehadiran kasih karunia (grace of God) bukanlah untuk memberikan kita kebebasan hidup tidak bermoral tetapi justru menjadi acuan mengapa kita harus hidup sesuai standar moral Allah.

Paulus meggunakan dua kali kata appear dalam teks ini (ayat 11 dan 14). Yang pertama menyatakan anugerah Allah (grace of God) telah hadir di dalam dunia. Ini adalah salah satu cara Paulus merujuk kepada inkarnasi Yesus Kristus. Paulus sedang melawan kebohongan orang Kreta yang mengatakan manusia dimungkinkan untuk menjadi Tuhan. Mereka mentuhankan tokoh-tokoh yang dapat memberkati hidup mereka. Paulus menekanan bahwa Tuhan yang sejati telah hadir menjadi manusia di dalam Yesus Kristus.

Firman Tuhan menyatakan dalam Yohanes 3:16 menyatakan bahwa inkarnasi Yesus Kristus adalah bentuk nyata kasih karunia Allah kepada dunia ini. Kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah anugerah (grace) yang memungkinkan terjadinya keselamatan.

Sebagai orang Kristen kita sering terjebak bahwa keselamatan kita adalah hanya untuk dibebaskan dari hukuman kekal dalam api Neraka untuk kemudian memiliki hidup kekal di Surga. Ini tentu bukanlah fakta yang salah tetapi Paulus mengajarkan bahwa realitas keselamatan itu melampaui fakta Neraka dan Surga.

Dalam teks ini, Paulus mengantisipasi adanya dua kelompok abadi. Yaitu kelompok yang merasa hidup dalam anugerah adalah hidup yang sebebas-bebasnya tanpa mempedulikan standar moral Allah. Dan kelompok yang lain adalah yang merasa perlu terus menambahkan kesucian ke dalam hidupnya dengan melakukan banyak ritual-ritual penyucian diri. Paulus menjelaskan makna dari anugerah yang menyelamatkan ini di dalam ayat 14 yaitu untuk membebaskan kita dari segala kehidupan tanpa hukum moral Allah (lawlessness) dan untuk menguduskan kita bagi diri-Nya sebagai umat kepunyaan-Nya sendiri.

Anugerah keselamatan tidak membuat kita steril dari kejahatan yang akan menimpa kita, tetapi anugerah keselamatan ini akan menolong kita untuk bisa lepas dari hidup yang tidak sesuai dengan hukum moral Allah (anomia). Ketika kita bertobat dan percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, dosa kita dibersihkan. Tetapi hidup di dalam dunia yang already but not yet masih membuat kita jatuh dalam dosa.

Ketika saya masih kecil, saya sering terjatuh ke selokan yang kotor. Badan saya pun menjadi kotor. Papa saya tidak membiarkan saya tinggal di dalam selokan yang kotor. Karena saya adalah anaknya, maka dia tidak ragu untuk mengangkat saya dari selokan yang kotor. Tetapi dia tidak hanya mengangkat saya dari selokan yang kotor, dia juga membersihkan saya dari kotornya air selokan. Anugerah keselamatan Yesus Kristus itu tidak hanya membersihkan dosa-dosa sebelum kita menjadi Kristen, tetapi anugerah ini juga terus menerus membersihkan kita dari kekotoran dosa. Ketika kita ada di dalam Kristus, kita tidak bisa tinggal di dalam dosa.

Anugerah Allah ini juga menyelamatkan kita dari tindakan-tindakan legalistik untuk mendapatkan kesucian. Berapa banyak orang Kristen yang memahami keselamatan adalah anugerah, tetapi berusaha mempertahankan keselamatan ini berbagai cara seakan-akan darah yang tercurah di kayu salib tidak efektif untuk menjaga kita hingga akhir. Mereka hidup seakan-akan yang already belum terjadi.

Keselamatan yang dari Allah itu sungguh-sungguh membebaskan kita dari hidup antinomian dan legalistik seperti ini sampai Yesus datang kedua kali. Pada waktu itu kita tidak akan lagi terjebak pada masalah antinomian dan legalistik lagi.

Jadi kehadiran Yesus Kristus yang pertama adalah anugerah yang menyelamatkan semua manusia. Paulus tidak pernah menggunakan frase semua manusia secara universalistik tetapi ini adalah untuk menyatakan semua manusia sekarang telah menerima berita anugerah di dalam Yesus Kristus. Berita tentang inkarnasi Yesus telah menjadi keniscayaan bagi dunia ini.

Kata appear yang kedua ada di dalam ayat 13 Paulus menyatakan dengan jelas bahwa kemuliaan Yesus Kristus pasti akan datang. Paulus dengan tegas memproklamasikan Yesus Kristus adalah Allah dan Juruselamat dunia ini.

Kedatangan Yesus Kristus yang pertama memampukan kita untuk menantikan kemuliaan Yesus Kristus yang kedua dengan penuh semangat. Menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua adalah cara anugerah mendidik orang Kristen untuk meninggalkan dosa dan menggantikannya dengan hidup saleh (ayat 11-12). Dan juga akan mendorong seseorang untuk hidup dalam kekudusan bukan mencari-cari kekudusan. (lihat 1 Yohanes 3:2-3). Anugerah yang memulai kita untuk mendapatkan kekudusan dan anugerah juga yang akan menyelesaikannya sampai akhir.

Apakah berita seperti ini sampai di telinga anak-anak didik kita? Apakah berita anugerah di dalam Yesus Kristus seperti ini masih relevan dalam kehidupan anak-anak didik kita? Apakah kita masih dengan semangat mengajak anak-anak didik kita menantikan kedatangan Yesus yang kedua kali? Mengajarkan mereka untuk lepas dari kehidupan yang tanpa hukum atau legalistik? Pertanyaan yang harus terus-menerus didengungkan dalam hati dan pikiran para pendidik Kristen, “Apa beda yang saya kerjakan dengan institusi pendidikan non Kristen?” Mungkin saatnya kita semua harus bertobat dari kegagalan melakukan keunikan pendidikan Kristen, yaitu memproklamasikan terus menerus Injil Yesus Kristus.

Paidea di antara Grace dan Glory

Paulus menyatakan kedatangan Yesus yang pertama kali sebagai grace dan kedatangan Yesus yang kedua kali sebagai glory. Kedatangan pertama dalam bentuk bayi yang lucu dan lemah. Kedatangan yang kedua dalam bentuk kemuliaan yang menyatakan kuasa dan kekuatan. Di antara grace dan glory ini Paulus menjelaskan sebuah konsep tentang peranan anugerah yang lain yaitu anugerah yang mendidik.

Anugerah Allah di dalam Injil (ay. 11) tidak hanya menyelamatkan kita dari dosa tetapi juga mendidik/paidea. Kata paidea (kata dasar dari kata pedagogy) ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam dari kata pendidikan dalam dunia modern. Ini adalah sebuah aktivitas dari orang tua atau pengasuh yang mengajar seorang anak, dengan dorongan, pengetahuan dan disiplin agar secara inner being terjadi transformasi yang terlihat dalam bentuk perbuatan yang baik. Anugerah menjadi paidea atau guru yang mengajar kita untuk hidup sebagai orang Kristen di antara grace dan glory.

Paidea dalam dunia Yunani adalah sebuah aktivitas peradaban (civilization) untuk memperoleh kebajikan (arete). Paulus tidak menentang prinsip ini tetapi melampauinya. Pendidikan Kristen bukan untuk mendapatkan kebajikan tetapi untuk melakukan kebajikan dengan sebuah kerajinan. Tetapi Paulus tidak menjadikan kebajikan sebagai the ultimate telos dari paidea Kristen. Paulus mengaitkan paidea untuk mencapai kebajikan dengan rencana keselamatan Allah bagi manusia. Paulus menjadikan paidea sebagai instrument untuk menghadirkan anugerah Yesus Kristus di dalam dunia ini.

Dalam Titus 2:12 ini, Paulus menunjukkan bahwa anugerah keselamatan di dalam inkarnasi Yesus Kristus adalah sebuah realitas yang memiliki nilai-nilai pendidikan (educative value). Paulus mengatakan bahwa anugerah Allah terus menerus mendidik kita yang hidup di antara grace dan glory. Anugerah yang diberitakan dalam Injil memiliki tujuan pedagogis untuk memperbaiki tingkah laku orang Kristen. Karena anugerah ini mengajarkan kita untuk mengatakan “no” pada kefasikan dan nafsu duniawi (ayat 12) dan “yes” kepada hidup bijaksana (penguasaan diri), benar (adil) dan saleh (beribadah dalam TB1).

Hidup dalam kefasikan adalah kondisi hidup tanpa Allah atau hidup seolah-olah Allah tidak ada. Dalam praktiknya, hal ini diterjemahkan ke dalam nafsu duniawi yang merupakan keinginan akan kepemilikan tanpa batas, kesenangan diri, dan penerimaan dari zaman yang jahat ini. Hawa nafsu ini terdiri dari keinginan-keinginan berdosa dari sifat alamiah manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, keinginan mata terhadap objek-objek sensual, dan kesombongan hidup duniawi (1 Yohanes 2:16).

Untuk itu, anugerah mendidik kita untuk hidup dengan penuh pengendalian diri, benar, dan saleh di zaman ini. Hidup mengendalikan diri berarti hidup menahan diri untuk tidak hanya untuk memuaskan daging ini. Hidup yang benar berarti hidup yang dengan kerelaan untuk mengikuti tuntutan moral hukum Allah. Hidup yang saleh merujuk kepada orang yang menghormati Allah dan mengutamakan dia di atas segalanya. Ketiga kualitas ini sangat penting bagi karakter Kristen di masa sekarang ini. Paulus sangat menekankan bahwa kehidupan seperti ini harus terjadi di dalam dunia sekarang ini (in the present age) walau tidak sempurna.

Kita semua tahu tidak mungkin kita melakukannya ketiga hal ini dengan sempurna. Anugerah Yesus Kristus akan mendidik kita untuk melakukan ketiga hal tersebut dengan sempurna. Tetapi ketika kita gagal, anugerah akan berdiri paling depan dan berkata, ada pengampunan, datanglah kepada Kristus, ada pelukan hangat. Dan setelah itu anugerah akan kembali mendidik kita untuk melakukan hidup yang benar sebagai orang yang telah menerima anugareh. Samuel Bolton (Westminster divine) mengatakan:

The law sends us to the Gospel that we may be justified; and the Gospel sends us to the law again to inquire what is our duty as those who are justified.

Hidup bijaksana, benar dan saleh (godly lives) ini melampaui sekadar fungsi-fungsi biologis, psikologis, dan sosial. Ini adalah sebuah kehidupan yang berkobar, penuh kasih dan sukacita dalam hubungan dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan ciptaan. Ini adalah sebuah kehidupan shalom. Sebuah hidup dalam keutuhan, kelengkapan, kebenaran yang sempurna dalam kasih dan kedamaian yang terus berkembang sambil menantikan the ultimate shalom.

Paulus menuliskan ayat 14 dalam nuansa Gunung Sinai, yaitu ketika Allah sedang berbicara mengenai sebuah bangsa yang kudus yang akan menjadi harta kesayangan Allah. Anugerah Yesus Kristus datang untuk membebaskan kita dari kehidupan tanpa hukum Allah dan menguduskan kita untuk menjadi suatu harta kesayangan-Nya, umat kepunyaan-Nya sendiri.

Pendidikan Kristen harus membuat peserta didik memiliki kehidupan yang bajik dan bijak di dalam dunia ini. Pendidikan Kristen harus menjadi koreksi terhadap perilaku manusia yang pada dasarnya bertentangan dengan Tuhan. Tetapi melampaui itu semua, pendidikan Kristen bertujuan untuk membuat peserta didik memiliki kehidupan shalom dan mengantar mereka untuk menjadi harta kesayangan Allah sendiri. Ini adalah sebuah keunikan dari pendidikan Kristen. Pendidikan yang menjadikan anugerah Yesus Kristus sebagai dasar dari pedagoginya.

Setiap kapal yang berlayar di lautan yang sama akan menghadapi tantangan gelombang ombak yang sama. Mungkin penumpang kapal pesiar masih bisa tersenyum ketika orang yang naik sekoci sudah pada muntah dan hampir tenggelam. Demikian sebagai pendidik Kristen, kita berlayar di lautan yang sama dengan tantangan ombak yang sama menimpa kapal kita. Satu hal yang penting, ketika anugerah Yesus Kristus menjadi mesin penggerak, apakah kita berlayar dengan kapal pesiar, kapal penumpang, kapal ferry, bahkan sekoci sekalipun maka setiap kapal akan tiba di Pelabuhan.

When grace is our teacher, our educational odyssey will be successful.

Share to

More Articles
Hidup Dipimpin Oleh Anugerah

Saudara-saudara yang di sana telah mendengar kabar tentang kami dan mereka datang menjumpai kami sampai ke Forum Apius dan Tres […]

When Grace Finds Us

Grace is for the calm, yet empty.Grace is for the bound yet longing to be free.Grace is for the anxious, […]

Grace As a Teacher: An Educational Odyssey

Sebab, sudah nyatalah anugerah Allah yang menyelamatkan semua manusia dan mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan […]

Holiness is Not Optional

“Then Moses said to Aaron, “This is what the LORD has said: ‘Among those who are near me I will […]

Menjadi Sebuah Korban Hidup

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan […]

What is the Gospel?

The word gospel literally means “good news”. It occurs 93 times in the Bible, exclusively in the New Testament. Broadly […]

Scroll to Top