Menjadi Sebuah Korban Hidup

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."
Roma 12:1

Ketika mendengar kata “korban,” apa yang terlintas di benak kita? Umumnya, kata ini dikaitkan dengan sesuatu yang negatif—seperti penderitaan akibat bencana alam, kekerasan, atau politik. Tidak heran jika banyak orang berusaha menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan “korban.”

Namun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada makna lain dari kata “korban,” yaitu pemberian untuk menyatakan kesetiaan dan bakti seseorang. Makna ini juga ditemukan dalam bahasa Ibrani, qorban, yang menunjuk pada suatu persembahan kepada Tuhan. Dalam pemahaman teologi Perjanjian Lama, korban bukan sekadar tindakan ritual, tetapi sebuah pernyataan ketaatan kepada perintah Allah, yang menuntut hati yang benar dan hidup yang kudus di hadapan-Nya.

Siapa di antara kita yang masih mengenal lagu gubahan Pdt. Stephen Tong yang berjudul Korban Hidup?

Tuhan ‘ku berserah jadi korban hidup.
Roh-Mu dan darah-Mu bakar sucikan t’rus.
B’rikanku Firman-Mu; Curahkan kasih-Mu;
Pakailah hidupku mengabarkan Injil-Mu.

Lagu ini mengajak kita untuk dengan kerelaan hati menyerahkan diri sebagai “korban hidup” bagi Tuhan. Sayangnya, konsep ini semakin jarang dibahas di kalangan Kristen saat ini, terutama dalam konteks budaya modern yang menekankan kenyamanan dan self-fulfillment. Namun, inilah panggilan Injil—hidup bagi Kristus dan bukan bagi diri sendiri. Inilah permintaan Paulus dalam Roma 12:1-8: agar kita, yang telah menerima belas kasihan Tuhan, mempersembahkan diri sebagai korban hidup bagi-Nya.

Hidup Sebagai Korban yang Kudus dan Berkenan kepada Tuhan

Kitab Roma terbagi dalam dua bagian besar. Pasal 1-11 membahas tentang keselamatan sebagai anugerah Allah yang diberikan kepada mereka yang percaya kepada Kristus. Paulus menekankan bahwa semua orang telah berdosa dan berada di bawah murka Allah. Namun, melalui karya penebusan Kristus, mereka yang percaya dibenarkan bukan karena perbuatan mereka, tetapi oleh iman (Roma 3:28). Keselamatan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana agar kita hidup bagi kemuliaan Allah.

Kemudian, dalam pasal 12-15, Paulus menguraikan implikasi praktis dari kehidupan yang telah menerima kasih karunia Tuhan. Dalam Roma 12:1-2, ia mendesak umat percaya untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “korban hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah.” Mengapa Paulus meminta ini?

Dalam dunia kuno, korban adalah sarana bagi manusia untuk mendekat kepada Allah. Baik orang Yahudi maupun non-Yahudi memahami sistem pengorbanan ini. Namun, Paulus menekankan perbedaan mendasar antara korban dalam agama-agama lain dengan korban dalam iman Kristen. Di luar Kristus, korban dilakukan agar manusia “dapat hidup” (Do these things and you will live!). Namun, Paulus berkata, “Hiduplah, dan kamu akan melakukan hal-hal ini” (Live and you will do these things). Artinya, tindakan mempersembahkan diri bukanlah cara untuk memperoleh keselamatan, melainkan respons logis terhadap anugerah yang telah diterima.

Paulus menegaskan bahwa korban kita harus “hidup.” Mengapa demikian? Bukankah korban biasanya mati di atas altar? Korban hidup berarti kita tidak perlu mati lagi karena ada satu korban yang telah menggantikan kita, yaitu Kristus. Inilah inti dari teologi Reformed: keselamatan sepenuhnya adalah anugerah Allah dalam Kristus. Sebagai respons terhadap pengorbanan-Nya, kita dipanggil untuk menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan—bukan hanya bagian terbaik, tetapi semuanya.

C.S. Lewis dalam Mere Christianity menulis:

“Give me all. I don’t want so much of your time and so much of your money and so much of your work: I want you… No half-measures are any good. I don’t want to cut off a branch here and a branch there, I want to have the whole tree down.”

Tuhan tidak menginginkan hanya sebagian dari hidup kita. Dia ingin semuanya, karena hanya dengan memberikan seluruhnya kepada-Nya, kita dapat benar-benar hidup dalam kehendak-Nya. Hidup Kristen bukanlah sekadar melakukan aktivitas rohani di gereja, tetapi menyerahkan seluruh aspek kehidupan—pekerjaan, keluarga, relasi, waktu, dan talenta—di bawah otoritas Kristus.

Jika kita perhatikan ayat satu ini terutama dalam bahasa Inggris yang lebih merefleksikan teks Yunaninya maka kita akan menemukan bahwa semua kata “kamu” yang ada di dalam kalimat tersebut adalah jamak. Artinya, Paulus tidak sedang berbicara kepada individu, tetapi kepada kumpulan orang Kristen. Dan kata “persembahan yang hidup” adalah tunggal atau dalam bahasa Inggris “a living sacrifice” atau bisa dibaca sebagai one living sacrifice.

Artinya, Paulus tidak sekedar meminta kita secara individu masing-masing menjadi persembahan yang hidup. Tetapi setiap dari kita bergabung menjadi satu persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Paulus memohon agar kita sebagai tubuh Kristus bersatu. Ini menjadi jelas ketika di ayat 3-8 Paulus menjelaskan satu tubuh dengan banyak anggota.

Apa artinya bagi kita? Paulus konsisten dengan tulisan-tulisan lainnya, yaitu kesatuan umat Allah dalam sebuah komunitas yang disebut sebagai jemaat atau gereja. Kita tidak dipanggil untuk menjadi orang Kristen yang hidup secara individual tetapi secara komunal. Semua orang Kristen dalam sebuah komunitas yaitu Gereja bersama-sama menjadi satu persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah dan itu adalah ibadah kita yang sejati.

Melayani Satu Sama Lain dalam Satu Tubuh

Menjadi korban hidup bukan hanya tentang penyerahan diri secara individu, tetapi juga tentang hidup dalam komunitas tubuh Kristus. Roma 12:3-8 menekankan bahwa setiap anggota tubuh Kristus memiliki fungsi berbeda, tetapi harus bekerja sama dalam kesatuan.

Paulus menasihati agar kita tidak berpikir lebih tinggi dari yang seharusnya. Dalam komunitas Kristen, ada godaan untuk merasa lebih penting dari orang lain atau mengkritik tanpa berkontribusi. Namun, kita dipanggil untuk rendah hati, menyadari bahwa setiap orang menerima anugerah dan karunia dari Tuhan untuk melayani tubuh Kristus.

Setiap orang memiliki peran yang berbeda: ada yang diberi karunia untuk mengajar, menasihati, memberi, memimpin, atau bermurah hati. Namun, semuanya harus dilakukan dengan kesungguhan dan sukacita. Gereja bukanlah sekadar tempat berkumpul, tetapi adalah tubuh Kristus yang harus saling melayani dan membangun satu sama lain.

Profesor saya, Mike Allen berkata: “Part of growing in pastoral ability involves developing the ability to exhort with gentleness, to offer critique with a smile or hug, and to have a backbone without being a jerk.” Pertumbuhan rohani terjadi ketika kita bisa menasihati dengan kelembutan, memberi kritik dengan kasih, dan tetap tegas tanpa menjadi kasar. Inilah salah satu aspek dari sanctification, ketika kita terus-menerus dikuduskan dalam komunitas tubuh Kristus.

Kesimpulan

Sebagai komunitas Kristen, kita harus memahami bahwa hidup Kristen bukan hanya tentang keselamatan pribadi, tetapi juga tentang mempersembahkan diri sebagai korban hidup dalam komunitas gereja. Gereja adalah tempat di mana kita:

  • Diperbarui oleh Firman Tuhan, bukan mengikuti pola dunia ini. Transformasi ini bukan hasil usaha manusia semata, tetapi karya Roh Kudus yang membentuk kita melalui Firman.
  • Hidup bersama sebagai sebuah korban hidup dalam komunitas iman, bukan sekadar hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi relasi dalam tubuh Kristus.
  • Melayani satu sama lain dengan rendah hati dan setia, sesuai dengan karunia yang Tuhan berikan. Karunia ini bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk membangun gereja dan memperluas Kerajaan Allah.

Mari kita bersama-sama menjadi korban hidup yang berkenan kepada Allah, karena itulah ibadah yang sejati dan logis. Menjadi penyembah yang logis berarti memiliki pemahaman yang benar tentang anugerah Allah dan meresponsnya dengan kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya. Soli Deo Gloria!

Share to

More Articles
Hidup Dipimpin Oleh Anugerah

Saudara-saudara yang di sana telah mendengar kabar tentang kami dan mereka datang menjumpai kami sampai ke Forum Apius dan Tres […]

When Grace Finds Us

Grace is for the calm, yet empty.Grace is for the bound yet longing to be free.Grace is for the anxious, […]

Grace As a Teacher: An Educational Odyssey

Sebab, sudah nyatalah anugerah Allah yang menyelamatkan semua manusia dan mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan […]

Holiness is Not Optional

“Then Moses said to Aaron, “This is what the LORD has said: ‘Among those who are near me I will […]

Menjadi Sebuah Korban Hidup

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan […]

What is the Gospel?

The word gospel literally means “good news”. It occurs 93 times in the Bible, exclusively in the New Testament. Broadly […]

Scroll to Top